Tiga hari tentang ketahanan keluarga

Berawal dari mendapat souvenir pernikahan @na_polaris yang berupa buku saku tentang ketahanan keluarga. Bermanfaat banget naj bukunya đŸ˜€
Dilanjut dengan opini Ibu dosen yang tidak sengaja saya temukan kemarin di salah satu akun sosial media mengenai memilih pemimpin dilihat dari latar belakang keluarganya.
Kemudian menjelang siang tadi tidak sengaja menonton acara televisi tentang membangun bangsa melalui ketahanan keluarga dengan narasumber rektor UIN dan kepala BKKBN.
Akhirnya saya tergelitik untuk mengabadikan momen tersebut untuk dijadikan bahan tulisan di blog ini.

Ternyata target pernikahan tidak semata untuk mendapatkan seseorang sebagai suami atau isteri. Hal selanjutnya yang menjadi target utama adalah bagaimana dari pernikahan tersebut terwujud rumah tangga yang baik, melahirkan generasi yang baik dan memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Mengutip dari isi buku saku oleh Ust. Drs. H. Ahmad Yani terdapat empat konsekuensi yang harus dibuktikan suami istri. Pertama adalah terikat sebagai suami istri. Kedua, terikat dalam syariat Islam untuk mau hidup sesuai ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya baik bersifat jasmaniah maupun rohaniah dan tidak peduli dengan komentar orang yang tidak paham. Sesuai dengan firmanNya pada QS Al-Jatsiyah [45] ayat 18: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at, maka ikutilah syari’at dari urusan itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Kemudian yang ketiga adalah memiliki keterikatan antar dua keluarga suami dan isteri sehingga memiliki tambahan kedua orang tua (mertua) yang harus diperlakukan dan dihormati sebagaimana orang tua sendiri, begitu pula orang tua yang memperlakukan menantunya seperti anak sendiri.
Keempat adalah memiliki keterikatan sebagai orang tua apabila pernikahan tersebut dikaruniai anak.

Pernikahan menjadi pintu gerbang dalam pembangunan keluarga. Oleh sebab itu harus memiliki ketahanan keluarga yang setidaknya terdiri dari lima aspek berikut.
Pertama yaitu memiliki kemandirian nilai Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahqaf [46] ayat 13, “Tuhan kami ialah Allah. Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
Kedua adalah memiliki kemandirian ekonomi. Rasulullah bersabda, “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya.” (HR Muslim dan Ahmad)
Ketiga yaitu tahan menghadapi goncangan keluarga. Kunci utama untuk memperkokoh ketahanan keluarga adalah konsolidasi suami isteri. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa [4]:19)
Poin keempat adalah keuletan dan ketangguhan dalam memainkan peran sosial. Seperti terdapat dalam Hadis riwayat Qudha’i dari Jabir ra, “Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Kelima yaitu mampu menyelesaikan problema yang dihadapi. Seperti terdapat dalam QS At-Thalaq [65] ayat 2 dan 3, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Dalam opini Ibu dosen, seseorang yang mampu menjadi pemimpin baik terlihat dari bagaimana ia dalam memimpin keluarganya.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA mengatakan dalam tayangan acara televisi bahwa keluarga merupakan tempat melepas lelah setelah beraktivitas di luar. Selain itu melihat dari sudut pandang agama, keluarga merupakan baiti jannati, rumahku surgaku. Dalam hal ini beliau mengumpakan rumah sebagai taman yang tidak hanya mampu melepaskan penat namun juga terdapat tugas untuk menumbuhkan bibit-bibit baru di dalamnya.

Iklan

One thought on “Tiga hari tentang ketahanan keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s