Tiga hari tentang ketahanan keluarga

Berawal dari mendapat souvenir pernikahan @na_polaris yang berupa buku saku tentang ketahanan keluarga. Bermanfaat banget naj bukunya ๐Ÿ˜€
Dilanjut dengan opini Ibu dosen yang tidak sengaja saya temukan kemarin di salah satu akun sosial media mengenai memilih pemimpin dilihat dari latar belakang keluarganya.
Kemudian menjelang siang tadi tidak sengaja menonton acara televisi tentang membangun bangsa melalui ketahanan keluarga dengan narasumber rektor UIN dan kepala BKKBN.
Akhirnya saya tergelitik untuk mengabadikan momen tersebut untuk dijadikan bahan tulisan di blog ini.

Ternyata target pernikahan tidak semata untuk mendapatkan seseorang sebagai suami atau isteri. Hal selanjutnya yang menjadi target utama adalah bagaimana dari pernikahan tersebut terwujud rumah tangga yang baik, melahirkan generasi yang baik dan memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Mengutip dari isi buku saku oleh Ust. Drs. H. Ahmad Yani terdapat empat konsekuensi yang harus dibuktikan suami istri. Pertama adalah terikat sebagai suami istri. Kedua, terikat dalam syariat Islam untuk mau hidup sesuai ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya baik bersifat jasmaniah maupun rohaniah dan tidak peduli dengan komentar orang yang tidak paham. Sesuai dengan firmanNya pada QS Al-Jatsiyah [45] ayat 18: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at, maka ikutilah syari’at dari urusan itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Kemudian yang ketiga adalah memiliki keterikatan antar dua keluarga suami dan isteri sehingga memiliki tambahan kedua orang tua (mertua) yang harus diperlakukan dan dihormati sebagaimana orang tua sendiri, begitu pula orang tua yang memperlakukan menantunya seperti anak sendiri.
Keempat adalah memiliki keterikatan sebagai orang tua apabila pernikahan tersebut dikaruniai anak.

Pernikahan menjadi pintu gerbang dalam pembangunan keluarga. Oleh sebab itu harus memiliki ketahanan keluarga yang setidaknya terdiri dari lima aspek berikut.
Pertama yaitu memiliki kemandirian nilai Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahqaf [46] ayat 13, “Tuhan kami ialah Allah. Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
Kedua adalah memiliki kemandirian ekonomi. Rasulullah bersabda, “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya.” (HR Muslim dan Ahmad)
Ketiga yaitu tahan menghadapi goncangan keluarga. Kunci utama untuk memperkokoh ketahanan keluarga adalah konsolidasi suami isteri. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa [4]:19)
Poin keempat adalah keuletan dan ketangguhan dalam memainkan peran sosial. Seperti terdapat dalam Hadis riwayat Qudha’i dari Jabir ra, “Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Kelima yaitu mampu menyelesaikan problema yang dihadapi. Seperti terdapat dalam QS At-Thalaq [65] ayat 2 dan 3, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Dalam opini Ibu dosen, seseorang yang mampu menjadi pemimpin baik terlihat dari bagaimana ia dalam memimpin keluarganya.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA mengatakan dalam tayangan acara televisi bahwa keluarga merupakan tempat melepas lelah setelah beraktivitas di luar. Selain itu melihat dari sudut pandang agama, keluarga merupakan baiti jannati, rumahku surgaku. Dalam hal ini beliau mengumpakan rumah sebagai taman yang tidak hanya mampu melepaskan penat namun juga terdapat tugas untuk menumbuhkan bibit-bibit baru di dalamnya.

Iklan

Design Thinking

The days before I joined master class with Mr. Andrew McCarthy, consultant, manager, designer and associate professor of the Master in Visual Media at Instituto de Empresa (IE) School of Communication. The topic is about design thinking. The internet connection was not working well but Karen Cesario kindly gave me the snapshot of the slide so I could share the material with you.

Today there is no dichotomy between thinking and design in multinational corporations. The market isn’t asking for choices. It is asking for options. Some companies want only strategy, some only design, many want both. There is a stronger demand among companies in Asia for design and a growing demand among organizations in the US and Europe for the design of brands and strategy. But again, most companies want both.
(Bloomberg Business Week)

Design thinking can be described as a discipline that uses the designer’s sensibility and methods to match people’s needs with what is technologically feasible and what a viable business strategy can convert into customer value and market opportunity.

Design Thinking Description

Design Thinking Description


Increasing design activity such as design-related employee training boosted a company’s revenue on average by 40% more than other companies over a five-year period. (Bloomberg Business Week)

We could use these steps to create design thinking:
1. Discover/Empathy
2. Interpret/Define
3. Ideate

  • Brainstorm
  • Mindmap
  • Post-it notes
  • 4. Experiment/Prototype
    5. Evolve/Test

    5 steps interplay

    5 Steps that Interplay

    Here some insights from Mr. McCarthy into the class

    Fail. Fail again. Fail better. -George Bernard Shaw.

    Stuck is just a beat away from unstuck.

    Recognize and then exit your comfort zone.

    Problems are opportunity.

    Aim for better questions, not better solutions

    Practice makes perfect; Learn to love the process, not only the launch.

    Thanks IE – Espaรฑa for the session.

    9:19 pm »

    Cahaya matahari menera dinding, dinding pun menerima pinjaman sinar kemegahan. Mengapa kau letakan hatimu di atas sebidang tanah. Oh, makhluk lugu, Carilah sumber yang bersinar abadi. J. Rumi.

    Doโ€™s and Donโ€™ts

    Actually it’s been so long that I want to post this article. I don’t know why I should postponed it. Probably it could be helpful for you who are doing research or final assignment.

    Questionnaire Doโ€™s and Donโ€™ts

    * Ensure questions are free of bias
    * Make questions simple (not multiple ideas)
    * Make questions specific
    * Avoid jargon
    * Avoid sophisticated or uncommon words
    * Avoid ambiguous words (such as “usually” or “frequently”)
    * Avoid negatives
    * Avoid hypotheticals (not imaginary questions)
    * Avoid words that could be misheard
    * Use response bands (offer a range)
    * Use mutually exclusive categories (distinct and not overlap in fixed-response question)
    * Allow for โ€œotherโ€ in fixed response questions

    Source: Page 136. Phillip Kotler, Kevin Lane Keller. Marketing Management 13th Edition. Pearson Education.

    This is life. No need to get a perfect present, but always refining for the future.

    May Allah bless us everyday. Amen.

    ย 

    ย 

    The Time

    Hello morning…
    You always have a sun to keep yours shining
    But sometimes you have too much cloud and make it gloomy
    Then eventually becomes rain and I’m sure you didn’t mean to make it sorrow

    Hello morning…
    I’m glad to have you beam serenely today
    It feels better when you know that the whole world also celebrate the day
    Healing
    That pain

    Anyway I shouldn’t make it worst
    The morning too happy to be ignored
    Smiling, smiling you can keep that precious thing

    Noon,
    Then the afternoon
    It would never regret to keep the sun brighting an earth
    Giving pleasure
    So we could see they grow they move they run
    Sometimes hot but I’m sure there’s a way to cooling down
    Get that shady

    Smoothly it slipping down
    And the sky turn to saffron, grizzle
    Hey evening comes!
    Having the time off
    Do not too busy with the dunya
    You have HIM
    “then which of your Lord will you deny?”

    That grizzle thing becomes darker gently
    But HE always grants the glory for HIS serf
    The sprinkle of stars
    Creating illumination, sparkling and gleaming
    Where you couldn’t stop to staring
    Until you said,

    Good Night ๐Ÿ™‚

    p.s. It’s not good for you still awake until midnight but wake up for the late night is the extraordinary time for someone with his Lord

    July 26th and August 28th

    Repentance

    Stop Complaining..
    Do you see? There’s still a light out there..
    You can’t just wait..
    You must move and do something to reach that light..
    Remember, with the sincere of intention, He’ll always show you the way..
    Be patient, every good deeds always get the greatest indeed..
    Istiqomah, InsyaAllah, Amin.

    15 Ramadhan 1433 H

    ***

    Al-Iโ€™tiraf

    Plea in Confession & Avoidance by Repentance

    ุงูู„ูฐู‡ููŠู’ ู„ูŽุณู’ุชู ู„ูู„ู’ููุฑู’ุฏูŽูˆู’ุณู ุงูŽู‡ู’ู„ู‹ุง
    ูˆูŽู„ูŽุง ุงูŽู‚ู’ูˆูฐู‰ ุนูŽู„ูฐู‰ ู†ูŽุงุฑู ุงู„ู’ุฌูŽุญูู€ูŠู’ู…ู
    ููŽู‡ูŽุจู’ ู„ููŠู’ ุชูŽูˆู’ุจูŽุฉู‹ ูˆูŽู‘ุงุบู’ู€ููุฑู’ ุฐูู†ูู€ูˆู’ ุจููŠ
    ููŽุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽุงููุฑู ุงู„ุฐูŽู‘ู†ู’ุจู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู

    God, I certainly do not deserve to enter Paradise (on account of my sins),
    and I definitely do not possess the ability to endure the fires of Hell.
    So allow me to repent (sincerely) and forgive all my sins (past, present & future)
    for You are surely the Forgiver of all sins โ€“ however minor or severe.

    ุฐูู†ููˆู’ุจููŠู’ ู…ูุซู’ู„ู ุงูŽุนู’ุฏูŽุงุฏู ุงู„ุฑูู‘ู…ูŽุงู„ู
    ููŽู‡ูŽุจู’ู„ููŠู’ ุชูŽู€ูˆู’ุจูŽุฉู‹ ูŠูŽุง ุฐูŽุง ุงู„ู’ุฌูŽู„ูŽุงู„ู
    ูˆูŽุนูู€ู…ู’ุฑููŠู’ ู†ูŽุงู‚ูุตูŒ ูููŠู’ ูƒูู„ูู‘ ูŠูŽู€ูˆู’ู…ู
    ูˆูŽุฐูŽู†ู’ุจููŠู’ ุฒูŽุงุฆูุฏูŒ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุงุญู’ุชูู…ูŽุงู„ู

    My sins exceed in number the grains of sand that line the shores of the sea.
    So allow me to repent (sincerely), O Majestic Lord who possesses all Glory.
    My lifetime decreases every passing day,
    while my sins keep increasing helplessly.

    ุงูู„ูฐู‡ููŠู’ ู„ูŽุณู’ุชู ู„ูู„ู’ููุฑู’ุฏูŽูˆู’ุณู ุงูŽู‡ู’ู„ู‹ุง
    ูˆูŽู„ูŽุง ุงูŽู‚ู’ูˆูฐู‰ ุนูŽู„ูฐู‰ ู†ูŽุงุฑู ุงู„ู’ุฌูŽุญูู€ูŠู’ู…ู
    ููŽู‡ูŽุจู’ ู„ููŠู’ ุชูŽูˆู’ุจูŽุฉู‹ ูˆูŽู‘ุงุบู’ู€ููุฑู’ ุฐูู†ูู€ูˆู’ ุจููŠ
    ููŽุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽุงููุฑู ุงู„ุฐูŽู‘ู†ู’ุจู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู

    God, I certainly do not deserve to enter Paradise (on account of my sins),
    and I definitely do not possess the ability to endure the fires of Hell.
    So allow me to repent (sincerely) and forgive all my sins (past, present & future)
    for You are surely the Forgiver of all sins โ€“ however minor or severe.

    ุงูู„ูฐู‡ููŠู’ ุนูŽุจู’ุฏููƒูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงุตููŠู’ ุงูŽุชูŽุงูƒูŽ
    ู…ูู‚ูุฑู‹ู‘ุง ุจูุงู„ุฐูู‘ู†ููˆู’ุจู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฏูŽุนูŽุงูƒูŽ
    ููŽุงูู†ู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ููŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ู„ูุฐูŽุงูƒูŽ ุงูŽู‡ู’ู„ูŒ
    ูˆูŽุงูู†ู’ ุชูŽุทู’ุฑูุฏู’ ููŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฑู’ุฌููˆู’ุง ุณููˆูŽุงูƒูŽ

    God, this sinful slave of Yours is turning to You (for salvation).
    Verily, I have sinned and so I implore You (for Your forgiveness).
    You forgive for You are the All-Forgiving.
    But if You refuse, to whom is our recourse?

    ุงูู„ูฐู‡ููŠู’ ู„ูŽุณู’ุชู ู„ูู„ู’ููุฑู’ุฏูŽูˆู’ุณู ุงูŽู‡ู’ู„ู‹ุง
    ูˆูŽู„ูŽุง ุงูŽู‚ู’ูˆูฐู‰ ุนูŽู„ูฐู‰ ู†ูŽุงุฑู ุงู„ู’ุฌูŽุญูู€ูŠู’ู…ู
    ููŽู‡ูŽุจู’ ู„ููŠู’ ุชูŽูˆู’ุจูŽุฉู‹ ูˆูŽู‘ุงุบู’ู€ููุฑู’ ุฐูู†ูู€ูˆู’ ุจููŠ
    ููŽุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽุงููุฑู ุงู„ุฐูŽู‘ู†ู’ุจู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู

    God, I certainly do not deserve to enter Paradise (on account of my sins),
    and I definitely do not possess the ability to endure the fires of Hell.
    So allow me to repent (sincerely) and forgive all my sins (past, present & future)
    for You are surely the Forgiver of all sins โ€“ however minor or severe.

    Source: http://taqwa.sg/v/articles/al-itiraf/

    Mahasiswa, Institusi, dan Teman-Temannya

    Dalam Perspektif Abad 21

    Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional-Dalam Perspektif Abad 21

    I. Pergeseran Peran Mahasiswa

    Apabila kita lihat perjalanan kehidupan masyarakat dan bangsa kita maka tampak adanya perubahan nilai-nilai baik nilai-nilai budaya maupun nilai-nilai politik yang menyertai kehidupan bangsa ini. Di dalam kehidupan mahasiswa juga tampak adanya pergeseran penghayatan nilai sejalan dengan perubahan nilai-nilai dalam masyarakatnya di dalam gerakan masyarakat dan bangsa Indonesia untuk merdeka. Bukankah mahasiswa itu merupakan sekelompok elit masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan atau setidak-tidaknya selangkah lebih maju dari masyarakat banyak? Terlebih di dalam suatu masyarakat yang relative masih rendah tingkat pendidikannya maka peranan mahasiswa jadi sangat menentukan.

    Di dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia dapat kita perhatikan empat peranan mahasiswa sebagai berikut:

    1. Era Pendobrakan Nilai-nilai

    Dalam era Kebangkitan Nasional pertama mulai dikembangkan pandangan yang melihat betapa kehidupan masyarakat dan bangsa kita menderita akibat kolonialisme. Nilai-nilai yang dipaksakan di dalam tatanan hidup kekuasaan colonial telah menjadikan bangsa ini bangsa yang terhina. Di dalam bahasa politik dikatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa. Dengan sendirinya kemajuan dan nilai-nilai kemanusiaan tidak memperoleh tempat yang layak dalam kehidupan. Keadaan ini mendapat perhatian dari pemuda-pemuda kita yang telah memperoleh pendidikan dari kaum penjajah maupun pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan-gerakan nasional.

    Apabila kita telusuri gerakan nasional di dalam Era Kebangkitan Nasional Pertama maka tidak dapat disangkal sikap kepeloporan dari pelajar dan mahasiswa baik di dalam negeri maupun dari para pelajar dan mahasiswa yang telah memperoleh kesempatan belajar di luar negeri pada waktu itu. Merekalah yang merupakan sekelompok elit bangsa Indonesia yang telah menjadi pendobrak nilai-nilai ama yaitu nilai-nilai tradisional yang menghambat kemajuan serta nilai-nilai colonial yang telah menindas kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia. Dapat dikatakan bahwa gerakan nasional sejak Budi Utomo dicetuskan oleh para pelajar dan mahasiswa.

    2. Era Revolusi Fisik

    Sebelum dan sesudah proklamasi tahun 1945 tradisi pelajar dan mahasiswa sebagai pendobrak nilai-nilai juga telah ikut menghiasi revolusi fisik Indonesia. Gerakan para pemuda di dalam revolusi fisik kita kenal misalnya peranan mahasiswa kedokteran (Ikka Dai Gaku) yang telah merupakan pelopor-pelopor dari revolusi fisik serta pemimpin-pemimpin politik, diplomasi, serta kegiatan-kegiatan revolusi lainnya. Di dalam perang kemerdekaan peranan pelajar dan mahasiswa seperti terlihat di dalam Tentara Pelajar (TRIP) ataupun tentara dari pelajar-pelajar sekolah menengah yang tergabung dalam IPPI sangat terkenal pada masa revolusi fisik. Belajar sambil berperang marupakan romantika kehidupan mahasiswa dan siswa pada masa revolusi fisik. Kita kenal banyak mahasiswa dan siswa yang meneruskan karirnya di dalam bidang ketentaraan dan banyak pula yang meneruskan studinya sesudah revolusi fisik. Program PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) telah memberikan sumbangan yang sangat besar di dalam pengembangan pendidikan nasional sesudah revolusi fisik.

    3. Era Politik Masuk Kampus

    Di dalam era ini kehidupan mahasiswa tidak terlepas dari kancah perjuangan politik baik di dalam negeri maupun di dalam pertarungan perang dingin pada tahun 50-an dan 60-an. Di dalam masa ini terjadi pertarungan kekuasaan politik yang juga memasuki kampus-kampus bukan hanya di Indonesia juga di seluruh dunia. Kita mengenal betapa kampus telah merupakan bagian dari pertarungan perebutan kekuasaan politik yang telah melibatkan kehidupan mahasiswa di dalam kegiatan politik praktis. Pergolakan kehidupan mahasiswa terjadi hamper di seluruh dunia kecuali barangkali di Negara-negara komunis waktu itu dimana kehidupan mahasiswa terus-menerus digilas. Di banyak Negara demokrasi terjadi pergolakan kampus yang cukup sengit dengan masuknya mahasiswa dalam masalah-masalah politik praktis misalnya di dalam tumbuhnya pemkiran-pemikiran kiri di dalam kehidupan mahasiswa.

    Di Negara kita pada waktu itu kita lihat bagaimana kehidupan kampus telah dikuasai oleh agitasi-agitasi politik sehingga kegiatan dan fungsi sebenarnya dari kampus telah berubah menjadi arena perebutan kekuatan-kekuatan politik. Pada permulaan Orde Baru kekuatan-kekuatan ini masih terus berlanjut. Di dalam keadaan ini kita ketahui misalnya usaha-usaha pemerintah untuk menata kembali kehidupan kampus supaya kampus mempunyai fungsi dan peranan yang jelas sebagai tempat pembinaan kader-kader bangsa. Tentunya penataan kembali kehidupan kampus tersebut belum atau tidak tuntas dlaksanakan sehingga kehidupan kampus terasa semakin lama semakin kering. Ada sementara pandangan yang mengatakan bahwa sistem pengaturan kehidupan mahasiswa di kampus-kampus telah mensterilkan pemikiran mahasiswa terhadap masa depan bangsanya.

    4. Era Pemantapan Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Nasional

    Sejak dimulainya pembangunan nasional pada masa Orde Baru disadari betapa besar peranan mahasiswa yang akan menjadi pelaku dan pelopor pembangunan itu sendiri. Oleh sebab itu kampus mulai ditata agar dapat melaksanakan fungsinya. Usaha yang besar ini tentunya menuntut usaha dan dana yang besar. selain daripada itu pembangunan nasional dalam berbagai segi juga meminta perhatian yang sama besarnya.

    Pada akhir 70-an tampak usaha-usaha pemerintah menata kehidupan kampus sebagai arena untuk mempersiapkan pemimpin bangsa masa depan. Usaha ini bukanlah merupakan hal yang mudah karena kampus kita belum mempunyai tradisi yang kuat. Kita masih mencari bentuk kehidupan kampus yang sebebnarnya. Selama itu politik praktis telah memasuki kampus misalnya dengan adanya organisasi mahasiswa ekstra kampus yang memang telah hidup sejak jaman colonial. Merubah peranan mahasiswa yang telah mengenal berbagai era perkembangan tentunya tidak mudah sehingga meminta waktu dan penyesuaian, sementara itu kita belum mempunyai saran dan prasarana yang memadai untuk menampung peran kampus yang baru tersebut. Boleh dikatakan pada saat ini kehidupan kampus masih terus mencari bentuknya yang pas sebagai arena pembinaan kader pemimpin bangsa di masa depan.

    ***

    III. Kondisi Kampus yang Memberdayakan Mahasiswa

    Telah diuraikan mengenai nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat terbuka abad 21. Apabila kampus kita tidak sanggup menanggapi dan mengembangkan nilai-nilai tersebut maka kampus-kampus kita tidak lebih dari pembuangan sampah dari masyarakat maju. Demikian pula nilai-nilai yang berkembang di dunia tidak seluruhnya sesuai dan bermanfaat bagi perkembangan masyarakat dan Negara kita. Memang kita harus dapat mengikuti arus perkembangan dunia tetapi kita hanya dapat mengikutinya secara produktif apabila kita sendiri diperlengkapi dengan kemampuan yang sesuai dengan apa yang telah dikembangkan oleh Negara-negara maju. Kampus kita harus mempunyai kemampuan untu dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa tersebut. Dengan kata lain kampus perlu diberdayakan untuk dapat menghadapi perubahaan dan perkembangan nilai-nilai tersebut.

    Uraian selanjutnya akan meninjau usaha pemberdayaan mahasiswa dalam rangka mempersiapkan para kader pemimpin bangsa menghadapi masa depannya. Seperti apa yang telah dikemukakan oleh Bung Hatta sekitar 40 tahun yang silam mengatakan bahwa tugas kampus bukan hanya belajar atau mengajarkan sesuatu tetapi studeren artinya bahwa para mahasiswa mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk menggali dan mencari sendiri kebenaran dan nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam khasanah ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.

    Ada empat modal dasar yang berperan dalam proses pemberdayaan manusia di dalam kampus yaitu dosen, mahasiswa, tenaga administratif, dan sarana pendukung. Keempat modal dasar ini saling kait-mengait, saling isi-mengisi di dalam rangka untuk โ€œmenghadirkanโ€ nilai-nilai masa depan agar dapat dikaji, dihayati, disempurnakan, dan dikembangkan oleh para mahasiswa. Di dalam perkembangan kampus kita yang masih muda itu banyak hal yang masih disempurnakan karena tidak jarang kita dapati bukan hanya nilai-nilai pendorong tetapi juga nilai-nilai menghambat dari pemberdayaan para mahasiswa. Beberapa nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Birokrasi Kampus

    Menurut pengamatan penulis kehidupan kampus kita masih sangat birokratis dan merupakan bayang-bayang dari birojrasi pemerintah baik di dalam struktur maupun dalam fungsinya. Birokrasi yang berlebihan ini tentunya tidak merangsang kearah pengkajian dan penalaran nilai-nilai yang luhur dan objektif. Demikian pula pelaksanaan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akan sangat terganggu oleh adanya birokrasi kampus yang berlebih-lebihan. Sudah barang tentu kehidupan kampus sebagai suatu tatanan kehidupan sosial mempunyai peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui, ditaati, dan dijalani oleh semua anggota masyarakat kampus. Nilai-nilai tersebut pertama-tama harus dipatuhi oleh para mahasiswa sebagai warga belajar agar tujuan kelembagaan kampus dapat terlaksana.

    2. Dosen yang Eksploratif

    Apa yang kita amati sekarang adalah para dosen yang loyo yang terikat di dalam pekerjaan rutin sehingga tidak memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan. Para dosen karena keterbatasan taraf kehidupannya sering terpaksa mencari nafkah di luar tanggung jawabnya dalam kampus sehingga sangat membatasi pengembangan kemampuannya sebagai dosen. Dosen-dosen kita menjadi tenaga-tenaga birokratif yang hidup kuat di dalam budaya kita yang masih paternalistic sehingga tidak mengherankan apabila mereka itu menjadi โ€œdiktator-diktator ilmu pengetahuan.โ€ Sebagai seorang diktator tidak mungkin para dosen kita menghidupkan proses belajar yang eksploratif karena kebenaran yang mutlak adalah terletak pada sang diktator yang sudah ditulis di dalam diktatnya.

    3. Meningkatkan Penalaran Krisis

    Apabila kita teliti proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kebanyakan kampus kita ialah matinya berpikir kritis baik dari para dosen apalagi pada para mahasiswanya. Bagi para dosen alur-alur berpikirnya telah dipatoki dan dibatasi oleh peraturan-peraturan birokrasi sehingga pelaksanaan kebebadan akademik dan kebebasan mimbar akademik banyak sekali tersendat-sendat karena batasan-batasan birokrasi. Sudah barang tentu sikap dosen yang demikian tidak memungkinkan para mahasiswa dapat berpikir kritis sehingga melahirkan robot yang tidak dapat melahirkan buah pikirannya sendiri. Apakah robot-robot ini dapat bertahan hidup menghadapi tantangan masa depan yang meminta manusia yang dapat berdiri sendiri dan yang dapat melahirkan buah pikirannya yang original dan yang kreatif?

    Apabila kita lihat suasana belajar-mengajar di dalam kampus kita kelihatannya seperti kampus yang mati tanpa kegairahan. Berpikir kritis telah dimatikan atau dimatikan secara perlahan-lahan sehingga apa yang terjadi di dalam kampus kita tidak lebih adri pemeliharaan burung-burung beo yang tidak dapat berpikir tetapi sekadar dapat mengucapkan apa yang telah dipelajarinya oleh tuannya. Tentulah proses belajar-mengajar yang demikian bukan memberdayakan mahasiswa tetapi memberdayakan mahasiswa atau membohongi mahasiswa dengan informasi yang keliru atau ketinggalan jaman.

    4. Disiplin

    Apabila kita amati kehidupan kampus kita maka yang disebut disiplin sebagai mahasiswa juga sebagai dosen masih perlu ditingkatkan. Pemeo mengatakan โ€œsemuanya-bisa-diaturโ€ masih terus menggejala di dalam kehidupan mahasiswa kita. Nilai-nilai bisa diatur, peraturan-peraturan akademis juga bisa dilenturkan. Para dosen yang juga tidak berdisiplin yang mengajar seenaknya dan tidak jarang ditemukan dosen yang tidak muncul di depan kelas. Bimbingan para dosen kepada para mahasiswa sangat minim apalagi jika bimbingan tersebut merupakan bimbingan terpimpin yang tidak melahirkan daya kritis dan eksploratif para mahasiswa. Demikian pula tenaga-tenaga administrative kampus kita masih perlu ditingkatkan sebagai suatu administrasi yang bersih.

    Clean Government di dalam kampus perlu dihidupkan dan dikembangkan sebab clean government diperlukan di dalam kampus, dalam masyarakat, dan dalam Negara kita. Perilaku para mahasiswa, para dosen, para tenaga administrative haruslah diarahkan oleh nilai-nilai objektif dari ilmu pengetahuan serta teknologi. Disiplin bermasyarakat, disiplin bernegara, akan dapat ditegakkan apabila kampus-kampus kita sendiri menggambarkan adanya suatu kehidupan yang berdisiplin.

    5. Kualitas

    Mengejar kualitas merupakan salah satu syarat di dalam memasuki masyarakat modern. Kampus hendaknya berusaha untuk memberdayakan mahasiswa untuk menjadi manusia yang berkualitas. Pengertian kualitas disini mencakup nilai-nilai yang telah dijelaskan di atas. Mahasiswa yang berkualitas adalah mahasiswa yang menerapkan nilai-nilai demokratis di dalam kehidupan kampus, yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa.

    Kampus yang berkualitas adalah pula kampus yang mempunyai dosen-dosen yang kreatif dan eksploratif, yang terus menerus mengembangkan kemampuannya, yang terus meneliti dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Kampus yang berkualitas adalah juga kampus yang menghidupkan berpikir kritis dari semua anggota kampus. Kampus yang berkualitas adalah pula kampus yang berdisiplin dari semua anggotanya. Juga kampus yang berkualitas adalah kampus yang merupakan pusat pengembangan dan pengabdian pengetahuan bagi kemanusiaan. Dengan demikian kampus yang berkualitas bukanlah mencetak kader pemimpin bangsa yang hanya mengejar diploma tetapi yang ingin menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya. Jaman untuk mengejar ijazah sarjana atau pasca sarjana dalam semusim atau melalui kursus jalur cepat bukanlah merupakan tempat bagi pengembangan kader bangsa.

    6. Sarana yang Memadai

    Apabila kita menginginkan kehidupan kampus yang wajar tentunya keinginan tersebut haruslah disertai dengan sarana-sarana yang memadai agar kehidupan kampus yang sebenarnya dapat diwujudkan. Di masa yang lalu saya sekali keinginan ini tidak sepenuhnya dapat diwujudkan sehingga kehendak kita untuk menjadikan kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan berpikir kritis tidak dapat dipenuhi karena kekurangan ruang belajar yang memadai, tidak tersedianya perpustakaan sebagai jantung kehidupan kampus, kurang tersedianya bahan-bahan untuk menggali danm engembangkan informasi, belum tersedianya cukup tenaga dosen yang ebrwenang. Hal ini perlu kiranya mendapat perhatian kita baik dari pemerintah (PTN) maupun dari perguruan tinggi swaasta (PTS).

    Menjamurnya perguruan tinggi swasta merupakan suatu pertanda yang baik dan alangkah lebih baik lagi apabila lembaga-lembaga pendidikan tersebut dilengkapi dengan sarana penunjang esensial yang perlu diadakan seperti tenaga-tenaga dosen yang berwenang, perpustakaan yang cukup, kehadiran dosen yang berdisiplin, dan disiplin belajar mengajar yang terus ditingkatkan. Semua hal itu akan menghasilkan para mahasiswa yang terbuka matanya dan dipersenjatai dengan kemapuan-kemampuan potensial sebagai calon pemimpin bangsa masa depan.

    Di dalam kaitan ini perlu kiranya kita cermati apa yang disebut pajak yayasan pendidikan. Hal ini terutama tertuju kepada perguruan-perguruan tinggi swasta yang memanfaatkan kesempatan untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya tanpa memperbaiki fasilitas belajar. Namun demikian penerapan peraturan perpajakan bagi yayasan pendidikan perlu kiranya diselaraskan dengan keinginan kita untuk lebih meningkatkan mutu sarana-sarana pendidikan. Seharusnyalah pajak bagi yayasan pendidikan ini menjadi pemicu bagi penyempurnaan sarana pendidikan yang memacu peningkatan proses belajar mengajar yang baik. Oleh sebab itu pajar bagi yayasan pendidikan seharusnya diatur begitu rupa setingkat dengan usaha untuk meningkatkan penunjangan proses belajar mengajar. Semakin tinggi tingkat akreditasi suatu perguruan sewajarnyalah semakin kurang pajak yang dikenakan kepadanya atau malah semakin tinggi tingkat akreditasinya semakin besar subsudi pemerintah yang diberikan kepada perguruan swasta tersebut.

    Bab 22 Pemberdayaan Mahasiswa Dalam Mempersiapkan Mental, Moral, dan Spiritual Generasi Muda Sebagai Kader Pemimpin Bangsa
    Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional-Dalam Perspektif Abad 21
    (c) 1998, Penerbit Tera Indonesia
    H.A.R. Tilaar

    Mauled of the Prophet

    Yesterday I attended Mauled the Prophet Muhammad SAW and International Seminar โ€œSturdies the Gathering by Love the Prophet SAWโ€ at Smesco Jakarta. Seminar opened by singing Indonesia Raya, Hymne IJABI, Mars IJABI and recitations. The keynote speaker was Dr. Perwira from Deputy VI Field of National Unity Coordination, Polhukam. Dr. Mahmoud Farazandeh, Iran Ambassador in Indonesia, also gave a brief speech.

    Ayatollah Naim Abadi who is the deputy of wali faqih, representation of Imam Khamenei in Iran, told the celebration of mauled in Iran with various mazhab in there. Mauled celebrated for one week with gracing the disparity each other.

    Lamentable, there are still which state that praise the Prophet/Mauled is heretical because it doesnโ€™t exist at the Prophetโ€™s time. Islam is not come to abolish local custom while it does not contradictive with Tawhid. Muslims should not insult the holiness or sacred things from the other groups. Muslims are appropriately united under the auspices of Islam. One of questions from Ayatollah Naim Abadi was whether the leaders of five Sects had quarreled? Therefore we must be together so that other enemies desperate to see our unity.

    Prof. Dr. H. Maidir Harun from PBNU said that the Islamic civilization wouldnโ€™t exist without unity. There is no difference belief in Sunni-Shiite because Allah is our God, Mohammad the Prophet and Al-Qurโ€™an the Book. In the chronicle of โ€œIslamiyah Sectโ€, Shia is one of the schools in Islam.

    Ayatollah Dr. Biazar Syirazi, Rector of Taqribul Mazahib Al-Islamiyah Islamic Republic of Iran, quoted one sentence from the author Dr. Hussein Haekal, if you want to emulate on the unity of the people, learned about the Prophet Muhammad who unite the tribes in Arabia. Now, in World Islamic University has comparative fiqh like Al-Azhar and Taqrib, the University he leads.

    One of the best Nasyid Team in Iran also celebrating this seminar.

    Last was short speech from Ust. Daud Poliraja, reading excerpts from book by Jalaludin Rahmat, and chanting by Ayatollah Naim Abadi.

    Sustainable Strategies of Sharia Banking in Indonesia in Response to The Global Economic Challenge

    Monday, February 6th, 2012 has been held Panel Discussion “Sustainable Strategies of Sharia Banking in Indonesia in Response to The Global Economic Challenge” at Bakrie University. It was one of the cooperation in Bakrie University such as cooperated with Bahrain Institute of Banking and Finance in education role.

    The Key Note speaker was Dr. Mulya Siregar-Director of Directorate of the Islamic Banking, Bank Indonesia.

    The first speaker was Dr. Mohammad Omar Faruq whoโ€™s the Head of Center for Islamic Finance at Bahrain Institute of Banking and Finance (BIBF). He was presented about Islamic Finance: The Next Wave. Here is the point that I’ve got from his explanation about finance and economy of Islam:

    โ€ข Legalism to Value Orientation
    โ€ข Micro juristic to Holistic
    โ€ข Financialisation to Real Economy Orientation
    โ€ข Development-neutral to Development-relevant
    โ€ข Debt-Orientation to Equity-Orientation
    โ€ข Non-standardization to Standardization
    โ€ข Parochialism to Universalism
    โ€ข Catalyst 1: Ethical

    I’ve quoted one of his sentences from the speech, โ€œMuslim created not only for other Muslim. It’s for humanity”.

    Next speaker was Mr. Alfatih Gessan P. Aryasantana whoโ€™s in Human Capital Development and the Future of Islamic Banking at BIBF. He explained about the Islamic Banking Historical which has been existed in 1960 at Egypt and Tabungan Haji at Malaysia.

    Islamic Banking has the Pull because included monotheism, fulfillment of role as vicegerent, achievement of supreme religious objection and purification. The Push of Islamic Banking is population composition, rising wealth of Islamic nation, wider acceptance of Islamic Banking and rise of Islamic intellectual. It also has weights which lack of government support overall, political instability, pressure of heritage and intellectual dependence and shortage of human capital.

    Bahrain's Human Capital Development Framework-Islamic Finance

    Bahrain's Human Capital Development Framework-Islamic Finance

    The last speaker was Dr. Rifki Ismal from Directorate of Islamic Banking, Bank Indonesia. Indonesian Islamic Banking was started from 1964 by Muamalat Bank. Islamic finance in Indonesia is from Macro level to Micro level such as Commercial Sharia Bank to Baitul Mal that amount to thousands in Indonesia. He was also explained the blueprint of Islamic Banking in Indonesia that has 7 pillars development.

    After that we moved to question section. Mr. Rifki told us that Islamic banking should be separated by its conventional banking. Now, Islamic bankingโ€™s shared owned by conventional but Sharia and Islamic banking operating with Islamic principal. Mr. AlFatih said human capital and its development is very essential. We need spirit for pure Islamic banking, not only know the knowledge of it. There is no trading money in Islamic economy.

    This panel discussion was closed by lunch together and teleconference in the end.