She had blue skin
and so did he.
He kept it hid
and so did she.
They searched for blue
Their whole life through,
Then passed right by,
And never knew.
-Shel Silverstein

She can’t be alone
She looks sad down
She’s always wondering
Why’s everything be like this

They come and go
They run and fall
Then she looks what behind
She just feel insane

People are people
They judge and complaint
Everybody just want their justification
Purification in every single thing they did
Didn’t want to get into trouble
Just said be strong be tough and prepare to gone

Shimmering, something shining through her scene
She’s always hope for being there
She’s always hope for being there

Broken inside
People please help her
Don’t judge and complaint
Just giving some helping hand

She wants to listen
But sometimes it was just missing
Prematurely happened
Cause the baby would never come

Shimmering, something shining through her scene
She’s always hope for being there
She’s always hope for being there

210913-Aliyya

Design Thinking

The days before I joined master class with Mr. Andrew McCarthy, consultant, manager, designer and associate professor of the Master in Visual Media at Instituto de Empresa (IE) School of Communication. The topic is about design thinking. The internet connection was not working well but Karen Cesario kindly gave me the snapshot of the slide so I could share the material with you.

Today there is no dichotomy between thinking and design in multinational corporations. The market isn’t asking for choices. It is asking for options. Some companies want only strategy, some only design, many want both. There is a stronger demand among companies in Asia for design and a growing demand among organizations in the US and Europe for the design of brands and strategy. But again, most companies want both.
(Bloomberg Business Week)

Design thinking can be described as a discipline that uses the designer’s sensibility and methods to match people’s needs with what is technologically feasible and what a viable business strategy can convert into customer value and market opportunity.

Design Thinking Description

Design Thinking Description


Increasing design activity such as design-related employee training boosted a company’s revenue on average by 40% more than other companies over a five-year period. (Bloomberg Business Week)

We could use these steps to create design thinking:
1. Discover/Empathy
2. Interpret/Define
3. Ideate

  • Brainstorm
  • Mindmap
  • Post-it notes
  • 4. Experiment/Prototype
    5. Evolve/Test

    5 steps interplay

    5 Steps that Interplay

    Here some insights from Mr. McCarthy into the class

    Fail. Fail again. Fail better. -George Bernard Shaw.

    Stuck is just a beat away from unstuck.

    Recognize and then exit your comfort zone.

    Problems are opportunity.

    Aim for better questions, not better solutions

    Practice makes perfect; Learn to love the process, not only the launch.

    Thanks IE – España for the session.

    9:19 pm »

    Cahaya matahari menera dinding, dinding pun menerima pinjaman sinar kemegahan. Mengapa kau letakan hatimu di atas sebidang tanah. Oh, makhluk lugu, Carilah sumber yang bersinar abadi. J. Rumi.

    Another Camp

    Here’s another time for me to enjoy this life before signing the contract with a company (hope soon, I almost put my hands up when I couldn’t get a fixed income, the other day I try to earn money with my own way, get bigger, get bigger please! Well, this part is not to talk about it).

    Back to the title, this National Youth Camp held by Ahlulbayt Indonesia in Mekarsari Camping Ground. I joined this event to acquaint with people there. I think I was the eldest woman participant there, seems that I should being the committee there. ( Anyway my friends there put me down as high school graduate, 19th! :3 ) Never mind, I know nothing about the core, I’m just had a feeling that I must gather friends there. It works :).

    We enjoyed the event. Ceremonial, information about disaster from central PMI, discussion, speech, pray together, outbound, culture night and walk in the middle watch. I felt the ambiance and the diversity like the orientation on my campus. 🙂 . It’s not easy to held the national event for the first time. Thumbs up for the committee. They said that was just the level one, I can’t wait for the level two guys!

    Third Tent

    Kekuatan di antara Dua Kelemahan

    Bulan Mei kemarin saya berkesempatan kembali untuk menghadiri kajian setelah beberapa bulan vakum. Kali ini diisi oleh Ust. Muhammad bin Alwi yang membahas tentang Pemuda. Kajian ini merupakan kajian perdana dan memang rata-rata dihadiri oleh anak muda meski diantaranya terdapat beberapa ibu dan bapak muda. Beliau memulai dari QS Arrum ayat 54

    54. Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

    Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa terdapat masa kekuatan di antara 2 kelemahan. Manusia diciptakan dan dikembalikan dalam keadaan lemah. Sementara masa kekuatan (Quwwah) tersebut tidak lain adalah masanya pemuda. Dilanjutkan dalam QS AlHajj ayat 5 mengenai penciptaan manusia. Allah memberi petunjuk kepada manusia agar menjadi sempurna (Asyuddakum).

    5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

    Dalam QS Almu’min ayat 67 juga disebutkan mengenai penciptaan manusia dari tanah dan fase perjalanan kehidupannya hingga diwafatkan.

    67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

    Imam Shadiq disebut pemuda karena kekuatan imannya. Siapa yang beriman dan bertakwa pada Allah maka dia disebut pemuda. Pemuda berada pada masa kekuatan diantara 2 kelemahan (kanak-kanak dan tua).

    Islam mengajak pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Siapa yang beramal baik laki maupun perempuan maka akan diberi kebahagiaan baik dunia maupun akhirat. Asal tahu tujuan dan tahu cara me-managenya. Tahu tujuan akhirnya yaitu akhirat. Tahu akhirat, hidup untuk menegakkan, memperjuangkan,melaksanakan kebenaran.
    Jangan mencari kelemahan orang lain tapi cari kelebihan orang lain dan syiddah/quwwah.

    Iqra’ bismirabbik!
    Kekuatan untuk bergerak adalah keyakinan. Sementara orang yang ragu tidak akan pernah berbuat (Attaubah).
    Tidak ada nabi yang diutus Allah kecuali dengan mukjizat, tujuannya supaya umatnya yakin.
    Kenali Allah yang memerintah dan yang melarang.
    Taklid adalah penghargaan, laksanakan dan jangan laksanakan untuk penghargaan. Kaum wanita dapat penghargaan lebih dulu dengan mendapatkan taklif (haid) terlebih dahulu.

    Allah itu mutlak :
    1. Arrahmanurrahimin.
    2. Allah jauh lebih mencintai kita daripada kita mencintai diri sendiri, juga seperti cinta seorang ibu terhadap anaknya.
    3. Allah tidak pernah memberi sesuatu kepada kita kecuali yang terbaik.
    4. Allah yang paling tahu yang terbaik dan maslahat untuk kita.
    Kalau itu baik maka tidak akan dijauhkan dari kita.
    Hamba yg setia yaitu hamba yg menerima ketentuan Allah.

    Setelah penyampaian materi, Beliau membuka sesi tanya jawab. Diantaranya membahas hal-hal sebagai berikut:

      Dalam QS Annisa:79 menyebutkan bahwa yang buruk merupakan andil dari diri kita

    “Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…”

      Allah mempunyai sunnatullah, anak yang lahir cacat lebih kepada beban orang tua itu sendiri bukan beban pada anaknya.
      Keyakinan kembali kepada percayanya kita kepada pembawa berita.

    Terakhir Beliau menutup dengan beberapa kata…

    “Sekecil apapun kalau kita mau bergerak Allah pasti tunjukkan, pesimis berarti berburuk sangka kepada Allah.”

    strength

    180513

    Muslimah Berkarya

    Januari 26, 2013

    Berawal dari ajakan seorang teman untuk mengikuti salah satu pengajian di bilangan jakarta selatan, Al-Azhar Pusat, yang diadakan oleh komunitas muslimah HC Jakarta. Materi ini disampaikan oleh Ust. Erika dan sangat menarik yaitu mengenai muslimah yang berkarya.
    Dalam QS At-Taubah ayat 105:

    105. Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

    Dari ayat tersebut disebutkan bahwa Allah menyuruh hamba-Nya untuk bekerja, termasuk muslimah juga wajib berkarya. Namun tetap harus menjaga fitrah dan kodratnya. Seperti yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 31:

    31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “

    Dan juga pada QS Al-Ahzab ayat 59:

    59.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Dari kedua ayat di atas disebutkan bahwa bagaimana seharusnya seorang wanita muslimah berpakaian dan kepada siapa saja boleh menampakkan auratnya. Selanjutnya pada QS Al-A’raf ayat 26 disebutkan mengenai pengertian pakaian:

    26. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

    Ayat tersebut menyebutkan bahwa pakaian digunakan sebagai penutup aurat dan juga perhiasan. Akan tetapi sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian takwa. Pakaian ketakwaan harus dijadikan kebiasaan, tidak hanya terbiasa menggunakan baju bagus namun juga perilaku yang lebih baik lagi.

    Wanita boleh berkarya dengan tetap memperhatikan batasan-batasannya. Keridhaan Allah di atas segalanya meskipun suami dan orang tua ridha. Wanita juga tidak boleh bepergian sebagai musafir apabila tidak ada mahramnya.

    Yang seringkali menjadi dilema bagi wanita muda adalah antara karir dan pernikahan. Penting nih untuk persiapan kita berkeluarga ke depannya. Antara karir dan pernikahan harus memperhatikan unsur manfaat yang besar untuk umat, anak, dan suami daripada mudharatnya. Wanita berkarya bukan untuk mencari nafkah tapi untuk berkontribusi. Seperti yang terdapat pada QS An-Nisa ayat 34:

    34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…..

    Beliau juga menjelaskan QS An-Nur ayat 60 mengenai wanita menopouse yang boleh menanggalkan pakaian luar/abayanya dan tidak bermaksud untuk tabarruj (menampakkan perhiasan):

    60. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian* mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.

    *pakaian luar yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat

    Sebenarnya banyak materi yang disampaikan oleh Ust. Erika, namun saya tidak lengkap mencatatnya. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat kita sebagai wanita agar tetap istiqomah dijalan-Nya!

    Hidayah di tangan Allah dan diberikan hanya kepada orang yang mau.

    It shouldn’t be broken

    Setelah bercerita sedikit mengenai apa yang sedang saya alami, ternyata seorang kakak berbaik hati untuk mencarikan saya beberapa artikel yang membantu dalam memberikan beberapa sudut pandang baru. Dan sepertinya saya mulai tertarik dengan dunia psikologi. Hitung-hitung sebagai persiapan untuk berumah tangga nanti hehe 🙂

    happy family

    Broken home dapat dilihat dari dua aspek yaitu

    (1) keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu meninggal dunia atau telah bercerai,
    (2) orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak di rumah, atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi. Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga keluarga itu tidak sehat secara psikologis.

    Dari keluarga yang digambarkan di atas tadi, akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian sehingga perilakunya sering tidak sesuai. Mereka mengalami gangguan emosional bahkan neurotik.
    Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat.

    Namun, broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Kondisi ini menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak. Bisa saja anak jadi murung, sedih yang berkepanjangan, dan malu. Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan.
    Karena orangtua merupakan contoh (role model), panutan, dan teladan bagi perkembangan anak-anaknya di masa remaja, terutama pada perkembangan psikis dan emosi, anak-anak perlu pengarahan, kontrol, serta perhatian yang cukup dari orang tua. Orangtua merupakan salah satu faktor sangat penting dalam pembentukan karakter anak-anak selain faktor lingkungan, sosial, dan pergaulan.

    Faktor-faktor Penyebab

    Adapun faktor-faktor yang menyebabkan broken home adalah :
    1.Ketidak dewasaan sikap orang tua

    Ketidakdewasaan sikap orang tua salah satunya dilihat dari sikap egoisme dan egosentrime. Egoisme adalah suatu sifat buruk manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan egosentrisme adalah sikap yang menjadikan dirinya pusat perhatian yang diusahakan oleh seseorang dengan segala cara. Pada orang yang seperti ini orang lain tidaklah penting. Dia mementingkan dirinya sendiri dan bagaimana menarik perhatian pihak lain agar mengikutinya minimal memperhatikannya. Akibatnya orang lain sering tersinggung dan tidak mau mengikutinya. Misalnya ayah dan ibu bertengkar karena ayah tidak mau membantu mengurus anaknya yang kecil yang sedang menangis alasannya ayah akan pergi main badminton. Padahal ibu sedang sibuk di dapur. Ibu menjadi marah kepada ayah dan ayah pun membalas kemarahan tersebut, terjadilah pertengkaran hebat di depan anak-anaknya, suatu contoh yang buruk yang diberikan oleh keduanya. Egoisme orang tua akan berdampak kepada anaknya, yaitu timbulnya sifat membandel, sulit disuruh dan suka bertengkar dengan saudaranya. Adapun sikap membandel adalah aplikasi dari rasa marah terhadap orang tua yang egosentrisme. Seharusnya orang tua memberi contoh yang baik seperti suka bekerja sama, saling membantu, bersahabat dan ramah. Sifat-sifat ini adalah lawan dari egoisme atau egosentrisme.

    2. Kehilangan kehangatan di dalam keluarga antara orang tua dan anak

    Kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga menyebabkan hilangnya kehangatan di dalam keluarga antara orang tua dan anak. Faktor kesibukan biasanya sering dianggap penyebab utama dari kurangnya komunikasi. Dimana ayah dan ibu bekerja dari pagi hingga sore hari, mereka tidak punya waktu untuk makan siang bersama, sholat berjamaah di rumah dimana ayah menjadi imam, sedang anggota keluarga menjadi jamaah. Di meja makan dan di tempat sholat berjamaah banyak hal yang bisa ditanyakan ayah atau ibu kepada anak-anaknya seperti pelajaran sekolah, teman di sekolah, kesedihan dan kesenangan yang dialami anak. Dan anak-anak akan mengungkapkan pengalaman perasaan dan pemikiran-pemikiran tentang kebaikan keluarga termasuk kritik terhadap orang tua mereka. Yang sering terjadi adalah kedua orang tua pulang hampir malam karena jalanan macet, badan capek, sampai di rumah mata sudah mengantuk dan tertidur. Tentu orang tidak mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dengan anak-anaknya.

    Akibatnya anak-anak menjadi remaja yang tidak terurus secara psikologis, mereka mengambil keputusan-keputusan tertentu yang membahayakan dirinya seperti berteman dengan anak-anak nakal, merokok, meneguk alkohol, main kebut-kebutan di jalanan sehingga menyusahkan masyarakat. Dan bahaya jika anak terlibat menjadi pemakai narkoba.

    Pada umur yang relatif labil yaitu, (+/-) 15 – 19 Tahun, pada masa remaja sampai dewasa inilah yang berbahaya dan bisa mempengaruhi psikologis anak, karena tidak menutup kemungkinan pada masa ini akan timbul pengaruh positif maupun pengaruh negatif yang terjadi pada anak tersebut, hal ini tergantung dari antisipasi yang akan di ambil oleh orang tua, dimana ia harus lebih memberi perhatian dan pengertian secara perlahan terhadap anak.

    Memburuknya komunikasi diantara suami istri ini seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga broken home. Oleh sebab itu sangatlah penting rasa saling percaya, saling terbuka, dan saling suka diantara kedua pihak agar terjadi komunikasi yang efektif. Dalam keadaan ini, kematangan kepribadianlah yang menentukan penerimaan peran dari pasangan komunikasinya. Setiap individu dilahirkan dengan tipe kepribadian yang berbeda-beda oleh sebab itu saling pengertian antarpasangan juga sangatlah penting.

    Dalam suasana keluarga yang broken home bukan hanya komunikasi yang memburuk, tetapi juga terdapat aspek yang tidak relevan dalam hubungan itu, sehingga menyebabkan berkurangnya ketertarikan antardiri pasangannya. Lemahnya ketertarikan ini bisa berdampak pada pengabaian sosial termasuk pengabaian afektif (Affective Disregard). Dalam hal ini, dapat diuraikan bahwa dalam keluarga yang broken home antarpasangan terjadi pelemahan rasa saling menilai secara positif, yang terjadi penilaian menjadi cenderung negatif antara satu pasangan dengan pasangannya.

    Dari semua fenomena di atas, akan bisa berdampak pada perkembangan psikologis anak dalam keluarga itu.

    Anak yang broken home bukanlah hanya anak yang berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orangtua yang sebenarnya. Tidak dapat dimungkiri kebutuhan ekonomi yang semakin sulit membuat setiap orang bekerja semakin keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, orangtua seringkali tidak menyadari kebutuhan psikologis anak yang sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya.

    Perhatian yang diperlukan anak dari orangtuanya adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk komunikasi verbal secara langsung dengan anak, meski hanya untuk menanyakan aktivitas sehari-harinya. Menanyakan sekolahnya, temannya, gurunya, mainannya, kesenangannya, hobinya, cita-cita dan keinginannya. Ada anak di sekolah yang merasa aneh, jika temannya mendapatkan perhatian seperti itu dari orangtuanya, karena zaman sekarang hal tersebut menjadi sangat mahal harganya dan tidak semua anak mendapatkannya.

    Dampak dari keegoisan dan kesibukan orangtua serta kurangnya waktu untuk anak dalam memberikan kebutuhannya menjadikan anak memiliki karakter mudah emosi (sensitif), kurang konsentrasi belajar, tidak peduli terhadap lingkungan dan sesamanya, tidak tahu sopan santun, tidak tahu etika bermasyarakat, mudah marah dan cepat tersinggung, senang mencari perhatian orang, ingin menang sendiri, susah diatur, suka melawan orang tua, tidak memiliki tujuan hidup, dan kurang memiliki daya juang.

    Solusi terbaik untuk anak-anak tersebut bukanlah psikolog, guru dan ulama, melainkan orangtua yaitu ayah dan ibunya di rumah yang dapat berperan dan berfungsi selayaknya orang tua. Anak-anak tidak akan berbicara secara verbal mengenai kebutuhan dan keinginan hati kecilnya, tetapi mereka akan berbicara dalam bentuk perilaku yang diperlihatkannya dalam keseharian. Alangkah bahagia dan senangnya anak-anak, jika orangtua dapat mengerti dan memahami fungsi dan peran orang tua sebagaimana mestinya. Andai saja orangtua dapat mengurangi keegoisannya dan menyisihkan waktu memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya, maka anak akan menjadi generasi yang berintelektual tinggi dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan harapan dan cita-cita orangtuanya.

    Pemaknaan cinta orangtua akan semakin mengarah pada negativitas seiring dengan munculnya beberapa hal berikut ini:
    1. Ketiadaan perhatian fisikal yang dirasakan oleh remaja dalam keluarga broken home
    2. Konfliks antara orangtuanya dirasakan semakin mengarah pada egoisme ayah-ibunya tanpa mempertimbangkan eksistensi remaja itu,
    3. Kurangnya pemahaman spiritualisme dalam menghadapi kenyataan hidup berkaitan dengan situasi broken home,
    4. Kurangnya sosialisasi dari lingkungan sosialnya untuk memandang hal itu dari sisi positif, dan
    5. Taraf perkembangan sosioemosional yang belum dewasa.

    Dampak pada anak-anak pada masa ketidakharmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis:
    1. Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan.
    2. Anak merasa jerjepit di tengah-tengah, karena harus memilih antara ibu atau ayah
    3. Anak sering kali mempunyai rasa bersalah.
    4. Kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

    Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak.
    1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali karena:
    1) Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau melampiaskannya.
    2) Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa muncul karena:
    • Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan.
    • Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
    • Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.
    2. Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

    Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan oleh orangtua yang bercerai adalah mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya. Hal lain yang perlu dilakukan oleh orangtua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok, dan jangan sekali-sekali melibatkan mereka dalam proses perceraian tersebut. Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah mencarikan orang dewasa lain seperti bibi atau paman, yang untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya. Maksudnya, supaya anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika belum ada perceraian.

    Berikut ini beberapa saran untuk mengatasi kesedihan anak dalam melewati proses perceraian orang tuanya:
    • Dukung anak Anda untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik yang positif maupun negatif, mengenai apa yang sudah terjadi.
    • Beri kesempatan pada anak untuk membicarakan mengenai perceraian dan bagaimana perceraian tersebut berpengaruh pada dirinya.
    • Bila Anda merasa tidak sanggup membantu anak, minta orang lain melakukannya. Misalnya, sanak keluarga yang dekat dengan si anak.
    • Jangan menjelek-jelekan mantan pasangan di depan anak walaupun Anda masih marah atau bermusuhan dengan bekas suami.
    • Anak-anak tidak perlu merasa mereka harus bertindak sebagai “penyambung lidah” bagi kedua orang tuanya.
    • Minta dukungan dari sanak keluarga dan teman-teman dekat. Orang tua tunggal memerlukan dukungan.
    • Bilamana mungkin, dukung anak-anak agar memiliki pandangan yang positif terhadap kedua orang tuanya.

    Sumber:
    FKSU dan Jurnal dari Psikologi Gundar